Selasa, 20 Februari 2018

Fungsi Dioda dan Cara Mengukurnya

Fungsi Dioda dan Cara Mengukurnya
Image result for dioda
Fungsi Dioda dan Cara mengukurnya – Dioda (Diode) adalah Komponen Elektronika Aktif yang terbuat dari bahan semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering dipergunakan sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya mempunyai 2 Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda) tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya.


Fungsi Dioda and Jenis-jenisnya

Berdasarkan Fungsi Dioda, Dioda dapat dibagi menjadi beberapa Jenis, diantaranya adalah :
  • Dioda Penyearah (Dioda Biasa atau Dioda Bridge) yang berfungsi sebagai penyearah arus AC ke arus DC.
  • Dioda Zener yang berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai penstabil tegangan.
  • Dioda LED yang berfungsi sebagai lampu Indikator ataupun lampu penerangan
  • Dioda Photo yang berfungsi sebagai sensor cahaya
  • Dioda Schottky yang berfungsi sebagai Pengendali

Simbol Dioda

Gambar dibawah ini menunjukan bahwa Dioda merupakan komponen Elektronika aktif yang terdiri dari 2 tipe bahan yaitu bahan tipe-p dan tipe-n :
Image result for simbol dioda
prinsip dioda
Untuk dapat memperjelas prinsip kerja Dioda dalam menghantarkan dan menghambat aliran arus listrik, dibawah ini adalah rangkaian dasar contoh pemasangan dan penggunaan Dioda dalam sebuah rangkaian Elektronika.
Image result for prinsip kerja dioda
Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter
Untuk mengetahui apakah sebuah Dioda dapat bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya, maka diperlukan pengukuran terhadap Dioda tersebut dengan menggunakan Multimeter (AVO Meter).

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog

  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω) x1k atau x100
  2. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  5. Jarum pada Display Multimeter harus bergerak ke kanan
  6. Balikan Probe Merah ke Terminal Anoda dan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang).
  7. Baca hasil Pengukuran di Display Multimeter
  8. Jarum harus tidak bergerak.
    **Jika Jarum bergerak, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah rusak.

Image result for Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Analog

Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital

Pada umumnya Multimeter Digital menyediakan pengukuran untuk Fungsi Dioda, Jika tidak ada, maka kita juga dapat mengukur Dioda dengan Fungsi Ohm pada Multimeter Digital.
Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Digital
(Fungsi Ohm / Ohmmeter)
  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi OHM (Ω)
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.64MOhm)
  6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
  7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  8. Nilai Resistansinya adalah Infinity (tak terhingga) atau Open Circuit.
    **Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.
Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital (Fungsi Ohm)
Cara Mengukur Dioda dengan Multimeter Digital
(Menggunakan Fungsi Dioda)
  1. Aturkan Posisi Saklar pada Posisi Dioda
  2. Hubungkan Probe Hitam pada Terminal Katoda (tanda gelang)
  3. Hubungkan Probe Merah pada Terminal Anoda.
  4. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  5. Display harus menunjukan nilai tertentu (Misalnya 0.42 V)
  6. Balikan Probe Hitam ke Terminal Anoda dan Probe Merah ke Katoda
  7. Baca hasil pengukuran di Display Multimeter
  8. Tidak terdapat nilai tegangan pada Display Multimeter.
    **Jika terdapat Nilai tertentu, maka Dioda tersebut berkemungkinan sudah Rusak.
Related image
Catatan Penting :
Hal yang perlu diperhatikan disini adalah Cara Mengukur Dioda dengan menggunakan Multimeter Analog dan Multimeter Digital adalah terbalik. Perhatikan Posisi Probe Merah (+) dan Probe Hitamnya (-).
Cara-cara pengukuran tersebut diatas juga dapat digunakan untuk menentukan Terminal mana yang Katoda dan mana yang Terminal Anoda jika tanda gelang yang tercetak di Dioda tidak dapat dilihat lagi atau terhapus (hilang).

Selasa, 13 Februari 2018

Cara Menganalisa Kerusakan dalam Rangkaian

Konsep Analisa Awal Kerusakan Rangkaian Elektronik

Usaha servis elektronik ? Kita sudah lumayan lama bergelut dibidang ini dan kali ini akan memberikan tips yang paling mudah untuk diikuti terutama untuk pemula, berkisar poin-poin apa saja yang mesti diutamakan dalam menganalisa kerusakan yang terjadi pada perangkat elektronik. Dari sekian banyaknya perangkat elektronik yang ada secara umum konsep kerjanya adalah sama karena komponen yang digunakan juga sama yang membedakan hanya fungsi perangkatnya. Contoh paling mendasar adalah rangkaian catu daya ( power supply ) dan sistem regulator, ini menjadi rangkaian terdepan . Kerap kali terjadi permasalahan dibagian ini sehingga perangkat tidak bisa bekerja.
Catu daya ( power supply ) dan sistem regulator terbagi 2 yaitu :
Memakai Trafo konvensional CT /Non CT, trafo ini menggunakan 2 kumparan yaitu primer dan sekunder dan biasanya jika mengalami kerusakan bisa terlihat dengan kasat mata ( plastik rumah kumparan/lilitan kawat meleleh) . Jika tampilan trafo baik/ tidak terlihat kerusakan seperti yang kita utarakan diatas maka biasanya themofuses yang mengalami kerusakan, perbaikan bisa kita lakukan dengan menjumper ( untuk pabrikan biasa ada konektor AC input yang tidak terpakai biasanya lokasi themofuses ada disitu ) dan jika tidak ada biasanya ada dibadan trafo ( ditengah kumparan) cukup lepaskan isolasi penutup kumparannya .
  • Sistem regulator ( pembagi tegangan supply ) , dari trafo terpasang 4 dioda lalu 1 buah capasitor setelahnya baru dipasangkan IC regulator. Trafo AC out kita gunakan yang 0-12 volt setelah masuk penyearah tegangan menjadi 15  volt DC dan untuk menstabilkan menjadi 12 voltkita memerlukan ic regulator 7812 , kalau mau 9 volt kita gunakan 7809 begitu seterusnya. Dengan single tegangan input yaitu 15 volt kita bisa membagi menjadi tegangan yang lebih kecil sesuai dengan keperluan. Selama kita melakukan perbaikan jarang sekali terjadi kerusakan dibagian ini karena arus kerjanya tidaklah besar. Penggunaan sistem ini umumnya ada di tone control amplifier, tape compo,aqualizer,dan masih banyak lagi yang lainnya.
Memakai Trafo elektrik, ukuran trafo ini tidak besar tetapi bisa menghasilkan arus yang besar serta tidak memerlukan ic regulator untuk menghasilkan beberapa varian tegangan. Kesulitan yang dihadapi adalah jika komponen yang menjadi tulang punggung mengalami kerusakan karena untuk memperbaiki ini mesti melakukan pemeriksaan komponen baik di area primer maupun sekunder, kilasannya :
trafo-elektrik-SMPS
  • Untuk area primer  , arus AC 220 volt masuk ke dioda dan terpasang 1 capasitor untuk filter . Tegangan menjadi 300 volt DC ( jika fuses selalu putus cek diodanya ) dan dari sini baru masuk ke L1 trafo dan L2 ke IC switching atau Transistor switching ( jika fuses selalu putus cek transitor/ic ). Gejala fuses selalu putus pastinya karena rusaknya 2 komponen tersebut dioda dan IC/Tr ,jadi kiatnya cukup angkat IC/Tr dari rangkaian dan selanjutnya tinggal ukur dioda 1 persatu.  Jika dioda bagus tinggal pasangkan fuses maka saat kita masukkan aliran listrik tanpa IC/Tr akan terukur tegangan 300 volt DC. Untuk penggunaan IC biasanya jika komponen pendukung baik ( resistor atau dioda bagus ) setelah penggantian power supply akan hidup dengan normal.

  • Lain halnya kalau menggunakan transistor baik type NPN atau FETtidak cukup hanya menggantinya saja karena komponen lain pasti ikut rusak saat transistor tersebut rusak. Sebelum kita pasangkan transistor baru, dalam kondisi tanpa transistor kita ukur dahulu tegangan driver untuk basis/ gate yang umumnya bernilai 0,5 volt ( sebagian lain mungkin bisa bernilai lain sesuai dengan media switchingnya ). Jika sudah sesuai barulah kita pasangkan transistornya, untuk pengetesan akhir kita tunda dahulu karena kita mesti periksa area sekunder trafo .

  • Area Sekunder, disini terpasang beberapa dioda sesuai dengan banyaknya tegangan yang dikeluarkan ( 1 dioda 1 tegangan output ) dan disini mesti kita periksa dioda apakah masih layak/ baik atau rusak. 1 dioda rusak maka secara keseluruhan mengalami kerusakan ( power supply menjadi protek ), cek juga capasitor nanofarad bila terpasang secara pararel ( sering juga terjadi kerusakan ). Jika sudah bisa dipastikan baik semua diodanya barulah kita masukkan aliran listrik ,PSU biasanya akan hidup dengan normal.
Konsep pengaturan output tegangan untuk trafo elektrik menggunakan 2 varian yaitu :
  • Sistem area primer ( kurang stabil ) tanpa komponen optocoupler
  • Sistem area sekunder ( sangat stabil ) dengan komponen optocoupler

Cara Memasang Komponen pada PCB dengan Benar dan Baik

Teknik Cara Menyolder Komponen ke PCB yang Benar

teknik cara menyolder komponen

Teknik Cara Menyolder Komponen ke PCB yang Benar – Salah satu ketrampilan yang harus dikuasai jika anda ingin menjadi seorang teknisi elektronika yang handal adalah menyolder. Memang kegiatan menyolder sekilas terlihat sangat mudah, namun tak semua orang bisa melakukan hal tersebut dengan benar.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menyolder, utamanya untuk menyambungkan komponen elektronike ke board PCB. Hasil penyolderan yang kurang bagus juga akan berpengaruh terhadap rangkaian elektronika. Banyak masalah terjadi dalam sebuah rangkaian elektronika akibat hasil penyolderan yang kurang baik.
Nah, oleh karena itu pada kesempatan yang baik ini, belajarelektronika.net akan berbagi sedikit tips mengenai cara menyolder komponen elektronika ke board PCB dengan baik dan benar. Bagi anda yang ingin tahu informasinya lebih lengkap dan detail, bisa lihat langsung ulasan dari belajarelektronika.net berikut ini.

Cara Menyolder Komponen ke PCB

Sebelum anda memulai menyolder, ada beberapa alat dan bahan yang harus dipersiapkan. Berikut adalah beberapa alat yang dibutuhkan untuk menyolder komponen elektronika ke board PCB agar menghasilkan hasil penyolderan yang sempurna dan memuaskan.
  • Solder (30-40 watt)
  • Kawat timah
  • Amplas halus
  • Board PCB
  • Komponen elektronika
Setelah semua bahannya siap, anda bisa melakukan proses penyolderan. Sekedar mengingatkan bahwa pemilihan solder yang baik adalah yang panas, namun tidak terlalu panas. Maksudnya adalah, solder dapat melelehkan timah dengan sempurna, namun tidak merusak komponen karena panasnya yang berlebihan.
Karena ada beberapa komponen elektronika yang rawan rusak apabila terkena panas yang berlebih seperti IC dan transistor. Oleh karena ini solder yang bagus adalah yang memiliki daya kira-kira 30 hingga 40 watt. Berikut adalah proses cara menyolder komponen ke PCB yang baik dan benar.
cara menyolder
  1. Pertama-tama bersihkan ujung solder dari kotoran atau sisa timah yang menempel
  2. Setelah itu colokkan solder ke sumber tegangan
  3. Tunggu selama kurang lebih 5 sampai 10 menit sampai solder panas
  4. Sembari menunggu solder memanas, anda bisa mengamplas permukaan PCB yang hendak disolder. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan yang membuat timah tidak bisa menempel dengan sempurna
  5. Setelah solder panas, ambil timah dan komponen yang ingin disolder ke PCB
  6. Masukkan kaki komponen ke dalam lubang PCB
  7. Arahkan ujung solder ke ujung kawat timah, dan dekatkan ke pangkal kaki komponen yang menempel ke PCB
  8. Solder sampai seluruh pangkal kaki komponen tertutup timah dengan sempurna
Perlu diperhatikan bahwa jangan sampai menempelkan ujung solder ke kaki komponen terlalu lama karena panas akan mengalir ke komponen dan merusaknya. Pastikan timah sudah mencair dengan sempurna saat proses penyolderan dilakukan untuk menghindari solderan yang kurang matang.
Hasil penyolderan yang baik memiliki bentuk yang lancip, bukan cembung ataupun cekung. Karena hasil solder yang lancip selain kuat, juga akan membuat tampilan board menjadi rapih. Berikut adalah gambar hasil penyolderan yang baik dan berkualitas yang bisa anda tiru dan praktekkan.
solderan yang baik
Demikian sedikit informasi mengenai teknik cara menyolder komponen ke PCB yang baik dan benar. Memang perlu latihan berulang kali agar bisa mendapatkan hasil penyolderan yang sempurna. Semoga informasi tadi dapat bermanfaat bagi para pembaca semuanya. Sampai jumpa.

Incoming search terms:

  • cara menyolder PCB
  • cara memasang komponen elektronik pada pcb
  • cara menyolder yang benar
  • belajar membuat power
  • cara solder
  • cara pemasangan komponen pada pcb
  • jelaskan cara menyolder kaki komponen pada pcb
  • cara menyolder kaki komponen pada pcb
  • Gambar hasil solderan yang benar
  • cara menyolder komponen

cara menggunakan solder yang baik dan benar

Image result for cara menyolder dengan baik
Cara Menggunakan Solder yang baik dan benar

Teknik Solder ( Cara Menyolder Yang Baik Dan Benar ) Sesuai Standard Teknisi Elektronika Dan Komunitas Teknisi Elektronika ,Namun Apa itu Solder ? Soldering (proses menyolder) didefinisikan dengan “menggabungkan beberapa logam (metal) secara difusi yang salah satunya mempunyai titik cair yang relatif berbeda”. Dengan kata lain, kita bisa menggabungkan dua atau lebih benda kerja (metal) dimana salah satunya mempunyai titik cair relatif lebih rendah, sehingga metal yang memiliki titik cair paling rendah akan lebih dulu mencair. Ketika proses penyolderan (pemanasan) di hentikan, maka logam yang mencair tesebut akan kembali membeku dan menggabungkan secara bersama-sama metal yang lain. Proses menyolder biasanya diaplikasikan pada peralatan elektronik untuk menempelkan/menggabungkan komponen elektronika pada papan circuit (PCB).


Lalu Bagaimana , Teknik Cara Menyolder Komponen ke PCB yang Benar ? Untuk melakukan penyolderan tentu saja diperlukan kemampuan atau keahlian (skill). Ada beberapa langkah yang harus kita ketahui sebelum kita menyolder, diantaranya :
Peralatan

Dan Apa Saja Peralatan yang dibutuhkan pada waktu menyolder ? diantaranya :

* Timah solder/Tinol (metal yang mempunyai titik cair cukup rendah sehingga mudah mencair);
* Multitester/Multimeter (digunakan untuk memeriksa komponen sebelum disolder);
* Penjepit/tang (digunakan untuk menjepit kaki komponen elektronika yang akan di solder, sehingga komponen tersebut mudah dipasang dan tidak terlalu panas karena sebagian panas akan disalurkan pada penjepit);
* Penghisap solder (digunakan untuk membersihkan tinol baik yang ada pada PCB maupun komponen, juga digunakan untuk mempermudah waktu mencabut komponen dari PCB);
* Dudukan solder (digunakan untuk menyimpan solder yang panas ketika sedang tidak digunakan).

- Persiapan

* Dipasaran terdapat solder yang mempunyai rentang daya antara 15 watt s/d 40 watt. Semakin besar tegangannya, solder tersebut akan semakin panas. Dalam pemilihan solder yang harus kita perhatikan adalah benda kerja yang akan di solder. Untuk menyolder komponen elektronika dianjurkan menggunakan solder yang berkekuatan 30 watt, supaya tidak terlalu panas yang menyebabkan komponen yang disolder menjadi rusak.
* Periksa PCB dan komponen elektronika yang akan di solder. Pastikan bahwa komponen-komponen tersebut bisa berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.

- Proses Penyolderan

* Bersihkan PCB dari kotoran atau minyak dengan menggunakan kain wol dan thinner atau menggunakan alat pembersih yang lain. Hindarkan alat pembersih yang bisa menyebabkan korosi pada PCB maupun jalur-jalur yang ada pada PCB
* Bersihkan komponen-komponen elektronika yang akan di solder, terutama bagian yang akan di solder (kaki-kakinya) dengan menggunakan kain atau ampelas.
* Panaskan solder sampai solder tersebut mampu mencairkan tinol
* Pasang komponen yang akan di solder pada PCB kemudian lakukan penyolderan. Jangan memasang komponen sekaligus tetapi bertahap satu persatu (pasang satu komponen, terus lakukan penyolderan kemudian dipotong kaki-kakinya, setelah selesai baru pasang lagi komponen yang lainnya). Dahulukan menyolder komponen yang paling tahan terhadap panas.. Untuk komponen seperti IC, usahakan jangan menyolder secara langsung ke PCB karena panas akibat penyolderan bisa merusaknya, tetapi gunakan socket/dudukan untuk memasangnya. Socket digunakan untuk menjaga supaya IC tidak terkena panas pada waktu menyolder, selain itu juga untuk mempermudah penggantian bila IC-nya rusak karena IC termasuk komponen yang paling sering mengalami kerusakan.

Yaitu dengan cara menacapkan kaki-kaki komponen tersebut pada lobang yang sudah disediakan pada PCB. Setelah di tancapkan, bengkokkan kakinya + 45o supaya komponen tersebut tidak terlepas dan untuk mempermudah pada waktu menyoldernya.
Solderan yang baik adalah solderan yang berbentuk gunung dengan ketinggian+ 0,75 mm

- Pemeriksaan

Setelah semua komponen di solder, proses terakhir adalah memeriksa jangan sampai ada solderan yang kurang baik atau komponen yang rusak akibat panas dari solder. Juga memerika jalur-jalur yang ada pada PCB jangan sampai ada yang rusak atau saling berhubungan akibat lelehan tinol yang akan mengakibatkan hubungan pendek
Pelapisan, Proses terakhir setelah semua proses di atas selesai adalah memberi lapisan terutama pada bagian bawah PCB yang ada soldernya dengan bahan yang bersifat isolator, misalnya cat/vernish. Hal ini dilakukan supaya rangkaian tadi terhindar dari korosi akibat oksidasi.

Setelah kita mengetahui apa saja komponen-komponen elektronika dan cara menguji komponen-komponen tersebut, tentunya tahap berikutnya adalah meletakan komponen-komponen tersebut pada PCB ( Printed Circuit Board). Maka dari itu kita harus mengetahui cara menyolder yang baik dan benar. Berikut merupakan cara menyolder yang baik dan benar, semoga bermanfaat.

A. Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan pada waktu menyolder, diantaranya :

* Timah solder/Tinol (metal yang mempunyai titik cair cukup rendah sehingga mudah mencair);
* Multitester/Multimeter (digunakan untuk memeriksa komponen sebelum disolder);
* Penjepit/tang (digunakan untuk menjepit kaki komponen elektronika yang akan di solder, sehingga komponen tersebut mudah dipasang dan tidak terlalu panas karena sebagian panas akan disalurkan pada penjepit);
* Penghisap solder (digunakan untuk membersihkan tinol baik yang ada pada PCB maupun komponen, juga digunakan untuk mempermudah waktu mencabut komponen dari PCB);
* Dudukan solder (digunakan untuk menyimpan solder yang panas ketika sedang tidak digunakan).


B. Keselamatan Kerja

* Gunakan kacamata polycarbonate atau yang sejenis untuk melindungi mata dari asap solder
* Jangan pernah menyentuh elemen pemanas atau ujung dari solder
* Selalu kembalikan solder pada stand soder setelah digunakan atau ketika tidak digunakan
* Lakukan penyolderan pada area yang cukup ventilasi
* Cuci tangan ketika selesai mengerjakan penyolderan


C. Persiapan Penyolderan

* Dipasaran terdapat solder yang mempunyai rentang daya antara 15 watt s/d 40 watt. Semakin besar tegangannya, solder tersebut akan semakin panas. Dalam pemilihan solder yang harus kita perhatikan adalah benda kerja yang akan di solder. Untuk menyolder komponen elektronika dianjurkan menggunakan solder yang berkekuatan 30 watt, supaya tidak terlalu panas yang menyebabkan komponen yang disolder menjadi rusak.
* Periksa PCB dan komponen elektronika yang akan di solder. Pastikan bahwa komponen-komponen tersebut bisa berfungsi sesuai dengan yang diharapkan.


D. Proses Penyolderan
Jika hal diatas sudah dipahami dan dipersiapkan maka mari lanjutkan pada tahap penyolderan. Perhatikan dengan seksama tahapan dibawah ini dan hal-hal yang harus dilakukan selama tahap penyolderan.

1. Bersihkan PCB dan Kaki Komponen
Bersihkan bagian-bagian yang akan disolder baik itu PCB maupun kaki komponen elektronika dengan ampelas halus atau pisau sehingga lapisan-lapisan cat, gemuk atau oksida tersingkirkan. Bila menggunakan kawat montase berisolasi (misal; kawat email) maka kelupaslah dulu isolasinya sepanjang 6-7mm kemudian ujung kawat dilapis dengan timah.

2. Memasukan Komponen Elektronika pada PCB
Kawat kaki komponen dimasukan pada lubang PCB dan bengkokan dengan tang sehingga terdapat pengait mekanis untuk menjaga posisi komponen. Ujung kawat yang berdiameter besar harus dipasang sedemikian rupa sehingga penyolderan dapat dilakukan dengan baik.

3. Mengatur Posisi PCB
Aturlah posisi PCB dan titik solderan sehingga cairan timah dapat mengalir sendiri ke titik yang diinginkan dengan bantuan gravitasi bumi.

4. Memanaskan PCB dan Kaki Komponen
Letakan bagian datar dari ujung solder ke sisi yang lebar pada PCB sehingga penyaluran panas terjadi melalui permukaan yang paling luas.

5. Menambahkan Timah pada Titik Solderan
Berikan timah pada titik solderan dan usahakan lapisan kolophonium lebih dulu mencair baru kemudian timah. Jumlah timah yang dilebur pada titik solderan tidaklah harus memenuhi lingkaran pad PCB.

6. Menarik Timah Solder
Setelah jumlah timah yang meleleh dirasa cukup, singkirkan timah dari titik solderan. Tahan ujung solder pada titik solderan sampai timah meresap pada semua bagian solderan. Setelah itu tarik ujung solder dari titik solderan dan biarkan beberapa saat untuk proses pendinginan.

7. Mendinginkan Titik Solderan
Selama pendinginan, titik penyolderan tidak boleh terguncang untuk menghindari penyolderan dingin. Penyolderan dingin dapat dilihat dari permukaan timah pada titik solderan yang menjadi buram.

8. Perhatikan
Untuk menyolder komponen semikonduktor gunakanlah solder yang panas dan lakukan dengan cepat. Hindari menggunakan solder yang dingin yang justru membuat proses penyolderan menjadi lebih lama kecuali dalam kondisi tertentu yang mengharuskan menggunakan solder yang lebih dingin.

Selasa, 06 Februari 2018

mengenal komponen pasif

Komponen Pasif:
1.      Inductor (kumparan)
Sebuah induktor atau reaktor adalah sebuah komponen elektronika pasif (kebanyakan berbentuk torus) yang dapat menyimpan energi pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melintasinya. Kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet ditentukan oleh induktansinya, dalam satuan Henry. Biasanya sebuah induktor adalah sebuah kawat penghantar yang dibentuk menjadi kumparan, lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat didalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus bolak-balik.
Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sebuah induktor pada kenyataanya merupakan gabungan dari induktansi, beberapa resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa kapasitansi. Pada suatu frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi karena kapasitas parasitnya. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat, induktor berinti magnet juga memboroskan daya didalam inti karena efek histeresis, dan pada arus tinggi mungkin mengalami nonlinearitas karena penjenuhan.
Induktansi (L) (diukur dalam Henry) adalah efek dari medan magnet yang terbentuk disekitar konduktor pembawa arus yang bersifat menahan perubahan arus. Arus listrik yang melewati konduktor membuat medan magnet sebanding dengan besar arus. Perubahan dalam arus menyebabkan perubahan medan magnet yang mengakibatkan gaya elektromotif lawan melalui GGL induksi yang bersifat menentang perubahan arus. Induktansi diukur berdasarkan jumlah gaya elektromotif yang ditimbulkan untuk setiap perubahan arus terhadap waktu. Sebagai contoh, sebuah induktor dengan induktansi 1 Henry menimbulkan gaya elektromotif sebesar 1 volt saat arus dalam  indukutor berubah dengan kecepatan 1 ampere setiap sekon. Jumlah lilitan, ukuran lilitan, dan material inti menentukan induktansi.
2.      Kapasitor (Condensator)
Kondensator atau sering disebut sebagai kapasitor adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik, dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan internal dari muatan listrik. Kondensator memiliki satuan yang disebut Farad dari nama Michael Faraday. Kondensator juga dikenal sebagai “kapasitor”, namun kata “kondensator” masih dipakai hingga saat ini. Pertama disebut oleh Alessandro Volta seorang ilmuwan Italia pada tahun 1782 (dari bahasa Itali condensatore), berkenaan dengan kemampuan alat untuk menyimpan suatu muatan listrik yang tinggi dibanding komponen lainnya. Kebanyakan bahasa dan negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris masih mengacu pada perkataan bahasa Italia “condensatore”, bahasa PeranciscondensateurIndonesia dan JermanKondensator atau Spanyol Condensador.
  • Kondensator diidentikkan mempunyai dua kaki dan dua kutub yaitu positif dan negatifserta memiliki cairan elektrolit dan biasanya berbentuk tabung.
Lambang kondensator (mempunyai kutub) pada skema elektronika.
  • Sedangkan jenis yang satunya lagi kebanyakan nilai kapasitasnya lebih rendah, tidak mempunyai kutub positif atau negatif pada kakinya, kebanyakan berbentuk bulat pipih berwarna coklat, merah, hijau dan lainnya seperti tablet atau kancing baju.
Lambang kapasitor (tidak mempunyai kutub) pada skema elektronika.
Namun kebiasaan dan kondisi serta artikulasibahasa setiap negara tergantung pada masyarakat yang lebih sering menyebutkannya. Kini kebiasaan orang tersebut hanya menyebutkan salah satu nama yang paling dominan digunakan atau lebih sering didengar. Pada masa kini, kondensator sering disebut kapasitor (capacitor) ataupun sebaliknya yang pada ilmu elektronika disingkat dengan huruf (C).
Berfungsi menyimpan energi dalam medan listrik. Fungsi pada suatu rangkaian adalah memisahkan arus bolak-balik dari arus searah, sebagai filter yang dipakai pada rangkaian catu daya, sebagai pembangkit frekuensi dalam rangkaian pemancar dan untuk menghemat daya listrik dalam rangkaian lampu TL.
  • Kapasitor Variable (Varco) yang memiliki nilai kapasitansi bervariasi.
  • Kapasitor tetap yang memiliki nilai kapasitansi tetap.
3.      Resistor (tahanan)
Resistor aksial biasanya menggunakan pola pita warna untuk menunjukkan resistansi. Resistor pasang-permukaan ditandas secara numerik jika cukup besar untuk dapat ditandai, biasanya resistor ukuran kecil yang sekarang digunakan terlalu kecil untuk dapat ditandai. Kemasan biasanya cokelat muda, cokelat, biru, atau hijau, walaupun begitu warna lain juga mungkin, seperti merah tua atau abu-abu.
Resistor awal abad ke-20 biasanya tidak diisolasi, dan dicelupkan ke cat untuk menutupi seluruh badan untuk pengkodean warna. Warna kedua diberikan pada salah satu ujung, dan sebuah titik (atau pita) warna di tengah memberikan digit ketiga. Aturannya adalah “badan, ujung, titik” memberikan urutan dua digit resistansi dan pengali desimal. Toleransi dasarnya adalah ±20%. Resistor dengan toleransi yang lebih rapat menggunakan warna perak (±10%) atau emas (±5%) pada ujung lainnya.
Identifikasi empat pita adalah skema kode warna yang paling sering digunakan. Ini terdiri dari empat pita warna yang dicetak mengelilingi badan resistor. Dua pita pertama merupakan informasi dua digit harga resistansi, pita ketiga merupakan pengali (jumlah nol yang ditambahkan setelah dua digit resistansi) dan pita keempat merupakan toleransi harga resistansi. Kadang-kadang pita kelima menunjukkan koefisien suhu, tetapi ini harus dibedakan dengan sistem lima warna sejati yang menggunakan tiga digit resistansi.
Sebagai contoh, hijau-biru-kuning-merah adalah 56 x 104Ω = 560 kΩ ± 2%. Deskripsi yang lebih mudah adalah: pita pertama, hijau, mempunyai harga 5 dan pita kedua, biru, mempunyai harga 6, dan keduanya dihitung sebagai 56. Pita ketiga,kuning, mempunyai harga 104, yang menambahkan empat nol di belakang 56, sedangkan pita keempat, merah, merupakan kode untuk toleransi ± 2%, memberikan nilai 560.000Ω pada keakuratan ± 2%.
WarnaPita pertamaPita keduaPita ketiga
(pengali)
Pita keempat
(toleransi)
Pita kelima
(koefisien suhu)
Hitam00× 100
Cokelat11×101± 1% (F)100 ppm
Merah22× 102± 2% (G)50 ppm
Oranye33× 10315 ppm
Kuning44× 10425 ppm
Hijau55× 105± 0.5% (D)
Biru66× 106± 0.25% (C)
Ungu77× 107± 0.1% (B)
Abu-abu88× 108± 0.05% (A)
Putih99× 109
Emas× 10-1± 5% (J)
Perak× 10-2± 10% (K)
Kosong± 20% (M)

Soal
Sebutkan urutan warna apa saja yang ada pada resistor 30 K Ohm 5%!
Jawab:
-Gelang 1 berwarna Jingga berarti angka ke 1 = 3
-Gelang 2 berwarna Hitam berarti angka ke 2 = 0
-Gelang 3 berwarna Jingga berarti angka ke 3 = x  1000 / banyaknya nol
-Gelang 4 berwarna Emas berarti yang menyatakan toleransi = 5 %
tata angka dari tabel resistor tersebut : 30 x  1000 = 30000
Sebutkan jenis-jenis dioda!
Jawab:
  • Dioda penyearah
  • Dioda faractor
  • Dioda zener
  • Dioda cahaya (LED)
Apa peredaan Triac dengan SCR?
Jawab:
Perbedaannya adalah apabila SCR dihubungkan ke dalam rangkaian ac, tegangan output disearahkan menjadi arus searah sedangkan TRIAC dirancang untuk menghantarkan pada kedua tengahan dari bentuk gelombang output